Ada pertanyaan dari seorang teman yang menjadi korban penipuan saat menjadi pembeli dalam suatu transaksi jual beli, ia telah mentransfer sejumlah uang ke rekening penjual, tetapi penjual barang tersebut tidak pernah mengirimkan barang yang dijanjikan kepada pembelinya. Sehingga pembeli tersebut membuat laporan penipuan di kepolisian. Seiring waktu, ternyata penjual tersebut meminta maaf secara langsung dan meminta penyelesaian dengan cara kekeluargaan dan pelaku yakni penjual tersebut telah mentransfer uang yang telah pembeli keluarkan dan meminta pembeli untuk mencabut laporan polisi yang telah dibuat.

Dalam kasus tersebut, yang bisa disampaikan adalah pada dasarnya Tindak Pidana terbagi atas 2 (dua) yakni delik biasa dan delik aduan. Dimana delik biasa apabila korban merasa kepentingannya dirugikan bisa membuat laporan kepada kepolisian dan pada dasarnya tidak dapat dilakukan pencabutan laporan terhadap perkara yang telah diproses oleh pihak kepolisian. adapun untuk delik aduan pada delik pengaduan dapat dilakukan pencabutan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan setelah pengaduan dilakukan di kepolisian dan apabila telah dicabut maka atas delik aduan tersebut tidak boleh diadukan lagi di kepolisian.

dalam hal laporan atas dugaan penipuan karena termasuk dalam delik biasa, jadi otomatis laporan yang telah dilakukan di kepolisian tersebut tidak dapat dicabut kembali sesuai dengan aturan hukum yang ada di KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana).

Dalam hal ini karena telah terjadi perdamaian antara saudara dengan pelaku, bukti perdamaian dapat ditunjukan kepada Penyidik Polisi sebagai bukti telah dilakukan perdamaian, kemudian berdasarkan bukti tersebut pihak kepolisian dapat mempergunakan hak diskresinya untuk menghentikan perkara (meskipun tidak diperbolehkan perundang-undangan untuk menghentikan perkara).

Tetapi apabila berkas perkara telah dilimpahkan kepada Penuntut Umum (Kejaksaan) atau telah sampai di Pengadilan, Akta Perdamaian bisa dijadikan sebagai alat bukti di pengadilan bahwa telah terjadi perdamaian antara para pihak sehingga hal tersebut bisa menjadikan dasar pertimbangan hakim untuk meringankan hukuman orang tersebut atau bahkan memutus lepas.

Demikian yang dapat kami sampaian semoga dapat bermanfaat bagi semua. (NA, 2013)